Yang Dikenal...
“Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” (II Korintus 3 : 2 – 3)
Belas kasihan. Kasih karunia. Kesabaran. Kasih. Pengampunan. Penguasaan diri. Kebaikan. Kepedulian. Kebaikan hati. Kemurahan. Siapa di dunia ini yang akan menentang sifat-sifat yang demikian? Siapa yang dapat menentang kekuatan positif itu dalam kehidupan seseorang? Atau dengan kata lain , siapa yang akan menentang orang-orang Kristiani? Siapa yang dapat menyebut orang-orang Kristiani dengan sebutan buruk, menganggap mereka berbahaya, sehingga orang berusaha menjauhkan jarak dengan orang-orang Kristiani. Siapa? Banyak orang. Teramat banyak orang! Mengapa? Karena dalam diri orang-orang Kristiani yang mereka kenal mereka tidak lagi menemukan sifat atau kekuatan positif seperti yang diatas.
Mereka tidak lagi menemukan sifat Kristus ketika berada di hadapan kita orang-orang Kristiani. Ketika ada yang menderita sedikitpun tak tergerak hati kita untuk berbelas kasih, malah sebaliknya dengan santai beranggapan bahwa memang seperti itulah nasibnya, sedikit saja kesalahan, kemarahan kita tumpahkan seperti gunung yang sudah lama tertidur dan tiba-tiba meletus, saat kita mengikuti keinginan sendiri atau mencari gara-gara, mereka segera melihat kebencian dan bukan kasih kita, dendam dan bukan pengampunan kita, sikap acuh tak acuh dan bukan kepedulian kita, kekasaran dan bukan kebaikan kita. Padahal, kehidupan kita perlu senantiasa mewartakan pesan dari Allah seperti sebuah surat yang bisa dibaca oleh semua orang. Surat Allah yang bisa terbaca lewat pola hidup kita, cara kita berpikir, berkata dan bertindak.
Kekristenan selalu berbicara tentang Yesus dan anugerah hidup kekal-Nya yang penuh kasih, pengampunan dan belas kasihan. Ini berarti, berbicara tentang pentingnya sebuah sikap yang seperti Yesus. Memang tidaklah mudah, tapi sesuatu yang sulit tidak berarti tidak bisa. Seperti kisah hidup Yesus, penuh dengan cobaan, tantangan tapi Yesus menjalaninya dengan sukacita dan yang terpenting Yesus tetap hidup dalam kekudusan hingga akhirnya memperoleh kemenangan. Orang yang berbahagia bukanlah orang yang ditentukan oleh situasi tetapi orang yang memiliki sikap.
Charles Swindoll menuliskan: “Makin lama aku hidup, makin yakinlah aku bahwa kehidupan terdiri dari sepuluh persen peristiwa yang terjadi dalam hidup kita dan sembilan puluh persen cara kita menanggapinya.
Kekristenan ialah tentang Yesus. Biarlah Dia selalu terbaca melalui kehidupan kita sehingga orang lain dapat melihat Dia.
Hiduplah sedemikian rupa sehingga orang lain ingin mengenal Juruselmat kita. Amin.